Ini tentang Rumah Angin. Cahayanya penuh dan menyerap di dinding-dinding kasih sayang Ayah dan Ibu. Teriakan ceria di rumah itu sangat kurindukan. Sangat kurindukan.
Ini tentang Rumah Angin. Anginnya berlari kesana kemari, cekikikan menggoda kakak adik yang tengah bercanda. Tarian nakal di rumah itu sangat kurindukan. Sangat kurindukan.
Sebentar lagi kuliah akan dimulai, aku masih berjalan sendirian di pasar dengan pikiran yang kacau. Rasa itu datang lagi. Aih, aku benar-benar kangen Ibu. Ini rasa yang paling tidak bisa kutahan. Tidak bisa, meski kugeleng-gelengkan kepalaku supaya slide di otakku bergeser, memori bersama Ibu tetap terputar di otakku. Tetap tidak bisa. Sekali kangen Ibu, ya kangen Ibu.
Tadi, di pintu sebuah toko aku mendengar suara yang sangat mirip dengan suara Ibu. Ketika kucari asalnya, kulihat seorang wanita tengah baya sedang menelefon. Ya, sepertinya sedang berbicara dengan anaknya. Suara wanita itu mirip sekali dengan suara ibu. Intonasinyapun sama. Kucoba nikmati lagi suara itu lebih lama, tanpa maksud menguping kudengar,
“Iyaa, udah dibelikan batiknya..”
“………”
“Ha? Iya, udah. Tapi ibu belikan ikan jadinya. Ikan aja ya.”
“……..”
“Iya..iya..”
Lalu ibu itu berjalan pergi. Aku masih terdiam di depan toko, di tepi jalan, termenung.
Ya Allah, tari kangen Ibu…
Percakapan ibu dan anak itu membuatku iri. Aku juga ingin melihat ibu pulang dari pasar lagi. Kusambut ibu dengan bahagia tak tak sabar memeriksa belanjaan ibu, berharap ada kue ataupun jepitan rambut, atau baju baru untukku. Setelah memeriksa belanjaan ibu, adakalanya aku kecewa karena belanjaan ibu hanya sayur dan ikan. Ketika aku menuntut dan protes ibu akan memberiku uang receh atau seribuan sebagai gantinya. Jika tidak, ibu selalu punya alasan untuk menangkal kekecewaanku.
“Kerupuknya lagi habis, udah ibu cari keliling pasar tadi..”
“Kue yang di pasar itu nggak enak! Besok-besok ibu bikin yang enak.”
“Jepitan rambut yang kemarin kan masih ada??”
Namun adakalanya pula ibu membawa sesuatu yang menyenangkan dari pasar tanpa harus kuminta sambil merengek. Seperti bakso, kue bolu ikan, kerupuk singkong, atau buah jeruk. Sungguh, ketika ibu membawa sesuatu yang kita sukai tanpa perlu meminta adalah sebuah moment yang paling membahagiakan.
Yah, begitulah dahulu kala ketika kau masih kecil. Ibu pulang dari pasar adalah moment yang paling indah. Tapi sekarang, aku harus kepasar sendiri. Membeli makanan, baju, sendal dan keperluan lain sendiri. Rasaanya hambar. Ibu juga kepasar sendiri sekarang. Tanpa anak gadis yang menemani. Aku tahu, ibu juga pasti kesepian di rumah. Aku dan kakakku seharusnya ada bersamana Ibu, membantu memasak, mencuci piring ataupun mengurus adik-adik.
Aku pernah berpikir, apakah kodrat anak perempuan seperti ini? Tak bisa selamanya bersama orangtua. Setelah sekolah, aku merantau kuliah, kerja, lalu menikah dan mengikuti suami. Di masa-masa kuliah ini aku semakin menyadari, waktu itu semakin dekat. Kelak aku akan pulang ke rumah bukan lagi sebagai penghuni tetap. Kelak aku akan mudik, bukan pulang ke rumah. Perasaan ini sungguh tidak nyaman.
Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, aku memiliki seorang kakak yang sedang kuliah semester akhir di Padang, sedangkan aku sedang kuliah semester awal di Bogor. Kedua adik laki-lakiku sudah mau masuk SMA dan adik lak-laki kecilku masih sekolah dasar. Kita adalah dua pasang anak ayah dan ibu. Hidup sederhana dan bahagia di rumah baru impian kami sejak dulu, di sebuah kota kecil yang sejuk di Sumatera Barat, yaitu Padang Panjang.
Rumah itu susah payah dibangun dengan simpanan, pinjaman, dan bantuan dari berbagai pihak. Sungguh dengan perjuangan yang luar biasa serta anugrah yang Maha Kuasa rumah itu akhirnya dapat kami tempati. Ibu lah yang terlihat sangat bahagia bisa menempati rumah itu. Dari mendesain, membeli bahan, dan memindahkan barang, ibulah yang paling semangat dan menyemangati kami semua. Disaat keperluan sehari-hari bertabrakan dengan keperluan pembangunan rumah, ibulah yang mengatur keuangan sehingga kita semua dapat tetap berkecukupan. Aku tahu, ayah juga bahagia, namun aku tahu ayah menyampaikan rasa bahagia itu kepada kami perlahan. Melalui semangatnya menjaga kami dan rumah itu. Melalui lamunannya sambil menatap keluar jendela, aku tahu ayah sangat menikmati kebahagiaan itu (dan aku merasa ayah sangat keren pada saat itu).
Aku menamai rumah itu Rumah Angin. Karena pertama kali aku ke rumah itu, aku disambut bahagia oleh wajah-wajah yang kusayangi serta angin dingin dari lubang-lubang fentilasi yang belum tertutupi oleh kaca. Angin bebas kesana kemari, membuatku merasakan kebebasan yang baru dirumah itu. Aku merasa, di rumah ini kita berteman dengan angin. Angin menjadi bagian dari rumah ini. Meskipun ia dingin, ia mengajarkan kita cara menghangatkan, dengan rasa bahagia, pelukan kasih sayang, dan dengan seteko teh hangat yang menyatukan keluarga kami.
Aku memang anggota terakhir yang merasakan masa-masa pertama tinggal di rumah Angin. Rumah itu baru selesai di bangun setelah beberapa hari aku berangkat merantau ke Bogor. Aku sempat kecewa tak bisa merasakan detik-detik pertama rumah itu dijadikan bagian dari kami. Namun, setelah aku kembali untuk pertama kalinya kerumah itu, aku merasa bahagia tak terkira. Sungguh.
Alhamdulillah, akhirnya kita punya rumah sendiri…
Bogor, 170914.
(Tulisan sejak kuliah tingkat 1, ketemu di folder-folder jadul.mwihihi)
by Atari L Rahmi - putri ke 2 Pak Khalil Taj
Februari 6, 2015
Rate This
Tidak ada komentar:
Posting Komentar